Mark Zuckerberg: Facebook Akan Batasi Konten Politik di 4 Negara Termasuk Indonesia

JURNALHITZ – Mark Zuckerberg selaku CEO Facebook mengumumkan terkait kebijakan di Facebook tentang aturan batasan postingan politik di sejumblah kecil News Feeds, khusus di empat negara, dilansir dari Business Insider Mark mengatakan telah mempertimbangkan langkah-langkah kebijakan untuk mengurangi jumblah konten politik di News Feeds.

Taipan AS itu mengatakan sekarang Facebook akan secara aktif menguji pengurangan unggahan politik yang muncul di News Feeds dari “persentase kecil” pengguna. Kebijakan itu secara khusus dilakukan di Kanada, Brasil, dan Indonesia dan AS akan diuji dalam “minggu-minggu mendatang.”

Menurut perusahaan, sekitar 6 persen konten Facebook masyarakat terdiri dari politik.

“Selama tes awal ini, kami akan mengeksplorasi berbagai cara menentukan peringkat konten politik di feed orang menggunakan “tanda” yang berbeda. Kemudian kami akan memutuskan pendekatan yang bisa digunakan untuk selanjutnya,” tulis Aastha Gupta, direktur manajemen produk Facebook, dalam rilisnya.

Pengguna yang terkena dampak ini kemudian akan disurvei. Kiriman dari lembaga pemerintah dan informasi Covid-19 dari lembaga dan layanan kesehatan “resmi dari pemerintah” tidak akan dibatasi dalam fase uji coba ini.

“Penting untuk dicatat bahwa kami tidak menghapus konten politik dari Facebook sama sekali,” tulis Gupta.

Menurutnya, pihaknya bermaksud menjaga kemampuan orang-orang menemukan dan berinteraksi dengan konten politik di Facebook, sambil menghormati selera setiap orang di kabar teratas kolom berita (News Feed) mereka.”

Facebook mengalami “banyak masalah” selama beberapa bulan karena penanganannya terhadap konten politik, khususnya dari fitur “grup Facebook”.

Platform media sosial ini sebelumnya mengatakan akan berhenti merekomendasikan kelompok politik dalam “jangka panjang.”

“Banyak dari penggunanya telah melaporkan tidak menginginkan “politik dan pertempuran untuk mengambil alih pengalaman mereka,” kata Zuckerberg sebelumnya.

Kami berencana untuk menjauhkan kelompok sipil dan politik dari rekomendasi untuk jangka panjang, dan kami berencana untuk memperluas kebijakan itu secara global,” kata Mark Zuckerberg.

“Untuk lebih jelasnya, ini adalah kelanjutan dari pekerjaan yang telah kami lakukan untuk sementara waktu, untuk menurunkan suhu dan mencegah percakapan dan komunitas yang memecah belah.”

Algoritma Facebook sering disalahkan sebagai kekuatan pendorong di balik pergerakan kelompok Facebook yang memecah belah, ekstremis, dan kejam.

Ada juga laporan tentang eksekutif puncak Facebook yang mengabaikan masalah ini, meskipun perusahaan media sosial tersebut telah membantah klaim tersebut.

Akibatnya, Facebook mendapat kecaman dari politisi seperti Senator Ed Markey karena mempromosikan kelompok politik.

Beberapa dari kelompok ini dinilai juga termasuk yang menjadi “tempat berkembang biaknya kebencian, ruang gema misinformasi, dan tempat untuk koordinasi kekerasan.

“Termasuk perencanaan eksplisit untuk pemberontakan di Gedung Capitol AS pada 6 Januari 2021,” tulis Markey dalam sebuah surat kepada Zuckerberg.

Sumber : Kompas

SBN

Tentang Penulis /

Asisten Editor di Meja Editorial Jurnalhitz. Apabila ada keberatan, atau ketidakpuasan dengan pemberitaan kami dan menjadi sengketa, kami melayani HAK JAWAB, dan HAK KOREKSI

Ketik dan tekan enter untuk mencari

Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Abaikan
Izinkan Notifikasi