Herman Korban Kebrutalan Oknum Polisi, Disiksa Ramai-Ramai Sampai Tewas

JURNALHITZ – Pada Jumat tanggal 4 Desember 2020, seorang pelayat membuka kain penutup jenazah Herman (38) saat itu didapatilah bekas luka di kedua dengkul betis bagian depan sampai pergelangan penuh dengan luka gores yang menghitam, saat kain penutup di bagian kepala di buka sedikit, terdapat darah terlihat menempel di bagian kiri kepala.

Kain itu belum ditata dengan benar sehingga pelayat yang duduk berkeliling dapat melihat. Mereka pun bersahutan.

“Aku ndak terima, aku ndak terima kakakku diginiin!”

“Matanya terbuka, kan.”

“Buka habis badannya Herman, buka habis!”

“Enggak usah divisum, ini ketahuan.”

Herman, anak tertua dari empat bersaudara, masih bernyawa dua hari sebelumnya. Sekira pukul 21, rehat Herman terganggu oleh tiga pria yang menyambangi kediamannya di kawasan Jalan Borobudur, Balikpapan Utara, Kalimantan Timur. Adik sepupu dan pamannya yang pertama kali menerima kedatangan para ‘tamu’.

Tanpa menunjukkan surat apa pun, tiga orang itu membawa pergi Herman yang kala itu hanya bercelana dan telanjang dada. Lelaki itu kemudian dimasukkan ke mobil.

Karena menduga orang-orang misterius ini polisi, dua adik Herman langsung mendatangi Polsek Balikpapan Utara tapi hasilnya nihil. Polisi bilang Herman tidak ada di sana. Mereka lantas menyambangi Polres Balikpapan pukul 1 pagi. Di sanalah mereka dapat kepastian keberadaan sang kakak.

Petugas jaga saat itu membenarkan Herman ditangkap karena kasus pencurian ponsel pada Februari 2020. Dua ponsel jadi barang bukti.

Meski keberadaannya telah diketahui, Herman tak bisa dijenguk dengan alasan masih diperiksa. Aura, adik Herman, bukan nama sebenarnya, lantas berpesan kepada polisi jaga untuk tidak menyiksa sang kakak. “Tenang saja, mbak, Herman aman sama kami. Kami enggak seperti itu,” tutur Aura kepada reporter Tirto, Senin (8/2/2021).

Pakaian yang dibawa dari rumah lantas diserahkan ke petugas. Aura pun pulang.

Setelah berjam-jam tak ada lagi kabar, sekitar pukul 21 tanggal 3 Desember, ada polisi datang ke rumah Herman dan mengajak Aura untuk ikut ke polres tanpa memberitahukan maksudnya. Haryani, bukan nama sebenarnya, adik pertama Herman, dan suaminya, akhirnya menuruti permintaan tersebut.

Kabar yang mereka dapati ternyata begitu menyayat hati. Mereka datang hanya untuk dikabari bahwa sang kakak telah tewas. Polisi bilang Herman buang air dan muntah-muntah setelah diberi makan. Ia meninggal saat dilarikan ke rumah sakit.

Haryani lalu menelepon Hesti untuk mengabarkan bahwa Herman tewas. Hesti bersama Hanifah pun menyusul ke polres.

Mereka semua hendak melihat kondisi sang kakak yang telah jadi jenazah, tapi polisi melarang. Keluarga dan polisi baku pendapat hingga pukul 2 dini hari.

Seorang polisi mengatakan Herman telah dimandikan, disalati, dan dikafankan, serta keluarga “tak perlu memikirkan jenazah.” Bahkan polisi itu memperlihatkan foto liang lahat untuk Herman di TPU Telindung. Lubang itu digali sekitar petang, tapi keluarga baru dikabarkan sekitar tiga jam kemudian.

Usai berdebat panjang, tercapailah kesepakatan bahwa polisi akan mengantarkan jenazah pukul 8 pagi hari itu juga, 4 Desember. Namun polisi tak juga datang pada waktu yang telah dijanjikan. Perwakilan warga dan paman Herman mendatangi RS Bhayangkara Balikpapan untuk mengambil jenazah.

“Sampai di sini jam 9 lewat. Jenazah kakak sudah [dibalut] plastik putih di badannya kemudian kafan. Sudah dimandikan. Begitu kami buka kafannya, sekujur badan kakak penuh luka-luka. Telinga kiri hampir putus dan mengeluarkan darah, tangan kirinya patah,” terang Hesti sembari terisak. Di punggung Herman ada luka juga, tulang rusuknya dislokasi, agak naik dari letak normal.

Dalam keadaan kalut Hesti tancap gas motor ke Polres Balikpapan hendak menggugat mengapa kondisi jenazah abangnya seperti itu. Seorang polisi dari divisi profesi ikut ke rumah setelah dipaksa.

Herman akhirnya dikuburkan di TPU Kilo Balikpapan dengan darah yang masih keluar dari tubuh.

Pada malam pertama tahlilan, polisi datang dan menyerahkan uang Rp2,5 juta. Begitu juga di hari ketiga. Menjelang tahlilah hari ke-40, polisi datang membawa amplop berisi uang lebih banyak, Rp25 juta. Uang berasal dari Kapolres Balikpapan dan disebut sebagai ‘bantuan tahlilan.’ Semua uang itu dikelola oleh Marfuah, bukan nama sebenarnya, istri Herman.

SBN

Tentang Penulis /

Asisten Editor di Meja Editorial Jurnalhitz. Apabila ada keberatan, atau ketidakpuasan dengan pemberitaan kami dan menjadi sengketa, kami melayani HAK JAWAB, dan HAK KOREKSI

Ketik dan tekan enter untuk mencari

Klik izinkan notifikasi untuk menerima berita dan pembaruan dari kami
Abaikan
Izinkan Notifikasi